My one summer fling.
Dulu, iya, dulu… saya pernah bikin commitment untuk merasakan summer fling, dan itu pun ternyata menjadi kenyataan!!! Padahal saya tidak berharap banyak… hahaha… Apalagi teman-teman saya bisa mencaci maki kenapa saya yang sensitive setengah mati mau memberikan hati saya untuk sesuatu yang tidak mungkin berjalan sampai bertahun-tahun ke depan.
Namanya Adrian. We promised each other that we would only have a summer fling (don’t ask me where I found someone to do that). Dia…, a Dutch man, tinggi, putih, jago masak, dan selalu bisa bikin saya merasa sebagai the most beautiful woman in Perth. We spent so much time together and he was the one that taught me the art of making mac & cheese (I can honestly say that I’m not a great cook). We were talking about our dreams, our plans, and I know that having no strings attached is impossible.
Sayangnya, rasa megap-megap hanya bertahan selama summer berlangsung. Adrian pun pergi. Percayalah, saya mencoba untuk tidak memberi 100% hati saya buat dia. Ujung-ujungnya, saya tidak bisa. Either saya memberi seluruhnya atau tidak sama sekali. Saya tahu untuk tidak menyalahkan diri sendiri atau pun dirinya, karena memang pilihan ada di tangan saya.
At the end saya berjanji untuk tidak memberi hati saya sembarangan demi impian yang tidak-tidak.
Menjalin relationship untuk beberapa orang sama halnya seperti mencoba baju atau sepatu. Kalau tidak cocok ya sebaiknya tidak dilanjutkan. Untuk saya rules itu tidak pernah berlaku. Bagaimana kita bisa dekat dengan seseorang tanpa melibatkan hati dan pikiran kita? Saya berani bilang bahwa Aristotle salah saat dia menganjurkan bahwa kita harus selalu menemukan titik tengah dalam segala sesuatunya. Tapi tidak begitu halnya dengan hati. It can go to one extreme and another without finding a balance in itself.




Too bad it’s not exactly an affair to remember ;] any personal experience? :]